Siapa yang tidak mengenal benda kuning berkilauan ini. Emas atau logam mulia, ya begitulah namanya. Harta berharga ini tidak pernah terpisahkan dari perjalanan peradaban manusia, sesuai dengan karakteristiknya akan selalu bernilai tinggi,dihargai dan disakralkan. Di masa lalu menjadi koleksi raja-raja (dimasa kini dikoleksi para investor untuk melindungi kekayaannya atau save heaven), pelengkap ritual-ritual peribadatan, aksesoris tempat-tempat yang dikeramatkan. Artikel kali ini tidak membahas lebih jauh tentang emas yang tidak pernah ada habisnya untuk dibahas, pembahasannya hanya pada kaitannya dengan rivalnya saat ini yaitu uang kertas yang sama-sama menjadi harta berharga.
Saat ini sejak pembatalan kesepakatan Bretton Wood, alat tukar global dan satu-satunya yang resmi adalah uang kertas atau fiat money. Uang kertas memang dijadikan sebagai alat tukar universal, tapi mari kita teliti. Misalkan diambil analogi di dunia ini telah ditemukan sebuah mesin yang dapat membawa manusia melintasi dimensi waktu. Sekelompok manusia dari zaman ini diberangkatkan ke abad pertengahan, dibekali setumpuk uang kertas Dollar ataupun Rupiah cetakan BI plus embel-embel ttd gubernur BI, apakah orang-orang di abad pertengahan tersebut sudi menukarkan istana mereka dengan tumpukan uang kertas itu? Tak peduli kuantitas dan nominalnya jutaan, miliaran! Jawaban mereka pertama sekali pastilah; Lha mana mungkin kami mau menukarkan istana kebanggaan kami dengan kertas-kertas kalian? Mau diapakan kertas-kertas kalian? Orang dari masa depan gila yaa...
Anggapan kegilaan itu mungkin ada benarnya karena sudah terlalu pintar manusia masa kini menjadi gila oleh pengetahuan mereka sendiri. Sebenarnya uang kertas yang kita pergunakan sekarang nilainya hanya berdasarkan kesepakatan bersama, Bank Central menjadi eksekutornya, Bank Dunia yang mengaturnya. Jadi misalkan tiba-tiba terjadi perang, institusi keuangan dunia hancur, bank dunia tidak berjalan sebagai mana mestinya mengakibatkan kepercayaan kepada uang kertas sebagai alat penyimpanan nilai atau alat tukar sudah tidak ada, maka dapat dipastikan uang-uang kertas tersebut yang tadinya berharga akan menjadi tumpukan kertas-kertas sampah ditinggalkan nilainya (meski angka pada kertas-kertas itu masih ada). Sejarah pernah mencatat kejadian seperti ini ketika Mark Jerman kehilangan nilainya, menjadi tumpukan kertas-kertas sampah.
Sesuatu yang berbeda ketika kita berbicara mengenai emas, emas tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, dibawa kemana saja tetap diterima, mau ke jaman batu sekalian atau ke zaman robot pun pastilah tetap bernilai di seantero dunia ini.
PERBANDINGAN EMAS DAN UANG KERTAS SEBAGAI ALAT TUKAR
Posted by Qmal Group
|
|
Demo Blog NJW V2 Updated at: 10:02

0 comments:
Post a Comment