Bukan, atau anggap saja belum!

Posted by

oleh Anhar Dana 'Dajju' Putra pada 4 November 2011 pukul 21:54

Kenapa begitu sulit menerjemahkan apa yang bergetar di dalam sini?

Kenapa begitu rumit menafsirkan apa yang berdebar di dalam sini?



Masa bodoh, namai saja itu cinta, sebut saja itu cinta!



Tapi aku tau itu bukan, atau anggap saja belum.



Lalu kenapa dia harus selalu ada dalam setiap jeda?

Lalu kenapa dia mesti selalu nampak pada setiap tapak?

Itu cinta bukan?



Bukan, atau anggap saja belum.



Kemudian berlari pergi menjadi pilihan yang paling masuk akal

Sekedar menguji apa masih ada getar, apa masih ada debar,

Saat dia tak lagi mewujud pada mata yang kasat

Saat dia tak lagi merupa pada tatap yang bulat



Ternyata lagi-lagi aku kalah

Masih ada mozaik-mozaik wajah serupa bayang mewujud pada pejaman

Masih ada Potongan-potongan wajah serupa bayang menyata pada lamunan



Masihkah kau mengelak?



Baiklah, aku menyerah

Aku sebut saja itu cinta



Tapi jika memang benar itu cinta

kenapa aku masih merasa sakit ketika kudengar dia sudah lebih dulu berkasih?

Kenapa aku masih merasa perih ketika kutau aku tak pantas menjadi kekasih?

serendah itukah?

Sedangkal itukah?



Aaaahh!!

Bisakah tak usah ada tanya???



Atau mungkin lebih baik kubiarkan tak bernama

Dan kembali tidur dan bermimpi

Tentang datangnya hari yang disebut masa depan

Menyuguhkanku senampan,

bukan hanya nama, namun juga sebuah ikatan

tentang janji sehidup semati



Tapi maaf,

Jika boleh sekali lagi aku bertanya,

Apa bisa di sebut cinta jika aku berharap masa depan itu dia?


Demo Blog NJW V2 Updated at: 09:09

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Flexible Home Layout

Tabs

Main menu section

Sub menu section