oleh Anhar Dana 'Dajju' Putra pada 5 September 2010 pukul 13:16 ·
Facebook dan Sebuah Cerita Dibaliknya (Based on True Story)
-Part 2-
:: Anhar Dana Putra ::
Hari itu aku sedang asik bercengkrama dengan teman-teman dikampus. Menjalani rutinitasku sebagai seorang mahasiswa yang sedang tidak ada jadwal kuliah. Nongkrong dikantin sambil menikmati secangkir kopi dan merokok bersama teman-teman. Aku menyebutnya ritual. Ritual-ritual seperti inilah yang membuatku betah nongkrong di kampus dari pagi sampai petang setiap harinya. Benar-benar suram hidupku jika tak ada ritual-ritual seperti ini. Terkadang ritual ini menjadi prioritas buatku ketika dihadapkan pada ritual sejati dari seorang mahasiswa yaitu ber-kuliah. Yah, mumpung masih muda, nikmatilah.
Waktu itu, tepatnya disiang yang cukup terik, ditengah ritual yang semakin lama semakin asyik. seorang teman berteriak ke arahku. “hei, ada wanita cantik mencarimu dari tadi.. siapaaaaa lagi itu???!!” teriaknya sambil menggoyang-goyangkan alisnya menggoda. Aku terkejut dan penasaran. Saking terkejutnya sampai ekspresi temanku yang lumayan menjijikkan itu pun kuacuhkan. Sebab aku merasa tidak sedang menunggu seseorang. Dari jauh, kulihat orang yang dimaksud pun semakin lama semakin mendekatiku. Dia adalah seorang wanita berbaju ungu. Cantik, kulitnya putih, mengenakan kerudung juga berwarna ungu, tingginya sedang, tidak tinggi tidak juga pendek. Sosok yang akan selalu berhasil membuat laki-laki manapun tertarik padanya.
Langkah demi langkahnya pun menjadi seirama dengan detak jantungku seketika itu. Kuakui aku deg-degan. Baru kali ini 30 detik terasa lama. Akhirnya 30 detik terlama dalam hidupku itu sampai pada ujungnya. Wanita itu sudah berada di hadapanku. Jantungku kini berdetak lebih cepat dari sebelumnya, meskipun dia sudah berhenti melangkah. Aku terkejut, tapi disaat yang sama aku seperti teringat sesuatu. Dan akhirnya wanita itu mulai menyapa (seperti biasanya).
“ingat denganku??” sapanya memulai.
Aku heran, tapi penasaran. Aku sama sekali tidak punya ide siapa dia sebenarnya. Diam adalah satu-satunya pilihan sikapku waktu itu. Tapi bukan hanya sekedar diam, melainkan sambil berusaha mengingat-ingat dengan menatap wajahnya dalam-dalam.
Dalam usahaku untuk mengingat, dia akhirnya menyela lagi.
“Profil Picture-ku memang tak berkerudung..” selanya.
Lampu neon bayangan tiba-tiba muncul di depan jidatku dan menyala. Aku ingat sekarang. Dia adalah orang yang selama ini menyita perhatianku. Dia adalah wanita yang selama ini merengkuh sebagian dunia mayaku. Dia adalah wanita yang sangat ingin bertemu denganku. Dan ternyata hari itu benar-benar datang. Akhirnya kami tiba pada suatu hari yang dinanti. Hari dimana akhirnya kami bertemu di dunia nyata.
Dengan tangkas aku kemudian mengambil inisiatif untuk mengajaknya berjalan-jalan mengitari kampus. Lebih tepatnya menjauh dari area ritual yang sudah terlalu riuh akan teriakan-teriakan tak jelas kepada kami berdua. Terus terang aku malu membuat dia malu. Pipinya merona merah delima. Manis kelihatannya. Seketika aku teringat pohon jambu air di halaman rumahku di kampung. Mungkin sekarang pohonnya sudah berbuah banyak. Tapi kemudian ingatan itu cepat-cepat kuhapus, takut dia melihatnya.
Menjauh dari situ memang merupakan alternatif yang paling tepat. Agar aku bisa menikmati obrolan nyata berdua saja tanpa ada gangguan dari siapapun. Sampai kami akhirnya menemukan tempat yang pas untuk mengobrol. Kebetulan ada sebuah gazebo di kampus yang sedang tak berpenghuni. Disekitarnya banyak pohon-pohon rindang, mengalihkan pandanganku dari ungu ke hijau. Kami pun akhirnya menyinggahi gazebo itu dan melanjutkan obrolan nyata kami.
“jangan katakan hari ini kamu berbaju ungu untuk menegaskan bahwa kamu memang pecinta warna ungu seperti yang kau katakan di facebook??” tanyaku meledek.
“ itu salah satunya.. tapi sebenarnya aku cuma merasa hari ini aku akan terlihat cantik jika mengenakan warna ini.. iyaa kann??” balasnya centil. Seperti ingin disentil.
Aku tak menjawab pertanyaan itu. Entah kenapa aku tiba-tiba menjadi canggung mengobrol langsung dengannya. Tak seperti waktu chatting yang semua obrolan mengalir begitu saja seperti air. Berbicara langsung didepannya benar-benar berbeda rasanya dengan ngobrol via facebook chat. Seperti ada sensasi lain yang menggerogoti lidahku.
“kenapa tak memberitahuku sebelumnya?? Kenapa kau memilih untuk mendatangiku langsung dan mengagetkanku??” tanyaku sekali lagi.
“Hari ini adalah hari yang kutunggu-tunggu.. aku tak mampu membendung rasa penasaran bagaimana rasanya berbincang denganmu secara langsung.. jadi aku datang saja kesini untuk menemuimu..” katanya sambil tersipu.
Aku sekali lagi terdiam. Sebab aku sama sekali tak pernah menduga dia benar-benar serius tentang keinginannya untuk bertemu denganku. Aku kira hanya sekedar pemanis obrolan saat chatting. Ternyata dia betul-betul membuktikan perkataannya.
Dengan kecanggunganku dan kecerewetannya, obrolan nyata kami pun semakin lama semakin menemukan alurnya. Kami pun pelan-pelan mulai menikmati hari pertemuan kami di dunia yang tidak maya ini. Bercanda dan tertawa di tempat yang sama. Bercerita dan saling bertatap muka. Selayaknya orang yang sudah bertahun-tahun saling mengenal kami menghabiskan waktu yang singkat itu untuk mengulang pembicaraan kami di facebook. Ya, Waktu yang singkat.
Kedatangannya menemuiku memang bisa dibilang singkat. Entah apakah dia sengaja mempermainkanku atau memang dia sedang ada keperluan lain. Yang jelas tak lama setelah asik mengobrol dia pun pamit. Aku bingung, mau menahannya atau membiarkannya pulang. Sebab aku masih ingin bercengkrama dengannya disini. Yah, mungkin lebih baik merelakannya pulang, pikirku waktu itu.
“mau aku antar?” tanyaku penuh harap.
“tidak usah.. aku biasa sendiri kok..” jawabnya dengan senyum yang menenangkan itu. Senyum yang sedari tadi membuatku nyaman. Ya, senyum yang asli, bukan hanya sekdar emoticon.
“Oh.. baiklah..” balasku dengan senyum yang tak kalah menenangkan (mungkin).
Dia sudah berlalu beberapa meter menjauh dari hadapanku, sebelum akhirnya kulihat dia berbalik lagi kearahku. Aku deg-degan sekali lagi. Otakku pun langsung bereaksi. Oh, mungkin dia melupakan sesuatu. Kuperiksa sekitarku, tak ada apa-apa disini, mana mungkin ada yang terlupa. Aku melengos. Sampai dia kemudian kembali berdiri dihadapanku.
“apa yang membuatmu kembali??” tanyaku penasaran.
“oh.. aku hanya lupa mengatakan padamu.. bahwa aku yakin kita pasti akan bertemu sekali lagi suatu hari nanti.. entah aku.. entah kamu.. atau Tuhan yang mau.. aku yakin itu!!” jawabnya tenang sambil tersenyum sekali lagi.
“oh iya, aku mau dipertemuan kita berikutnya kamu yang banyak bercerita tentang hidupmu, karena aku sudah sering melakukan itu di facebook, sekarang giliranmu..” tambahnya.
Aku hanya menjawabnya dengan anggukan. Iya.. janji, kataku dalam hati. Setelah melihat anggukanku, dia tersenyum, lalu kemudian pergi. Berlalu dan menjauh.
Aku melihatnya berlalu saat itu. Sambil membendung rasa bahagia dan tak percaya yang bercampur jadi satu dalam sebuah wadah yaitu aku. Dia akhirnya datang. Aku masih tak percaya akhirnya aku benar-benar bertemu dengannya. Pikiranku masih mengawang-awang. Selain itu aku juga tak mampu menyembunyikan perasaan bahagiaku. Hari itu, sekembalinya dari gazebo tempat pertemuan ku yang nyata, senyum itu selalu hadir di wajahku, sampai-sampai gigiku kering dibuatnya. Tak bisa juga aku memaksanya tertutup, sebab betapapun aku menarik bibirku, dia pasti akan tetap melebar selebar-lebarnya. Ya, aku memang bahagia hari itu, serasa ingin melintasi samudra yang tujuh, serasa ingin menembus langit ke tujuh. Serasa ingin memasuki surga dan menjauhi neraka (oke! setiap manusia memang menginginkan ini!!). Atau apapun itu, yang jelas aku bahagia. Dan semoga dia juga merasakan hal yang serupa.
Aku berharap, semoga apa yang dia yakini bahwa akan ada pertemuan kedua itu benar. Aku tak sabar ingin melihat bagaimana perwujudan keyakinan yang aku harap benar itu.Jika saja aku punya kekuatan jumper. Aku akan gunakan untuk melompat menuju pertemuan kedua kami. Aku sungguh penasaran.
To Be Continued To Facebook dan Sebuah Cerita Dibaliknya (Based on True Story)
-Part 3-
Facebook dan Sebuah Cerita Dibaliknya (Based on True Story) -Part 2-
Posted by Qmal Group
|
|
Demo Blog NJW V2 Updated at: 08:49

0 comments:
Post a Comment