oleh Anhar Dana 'Dajju' Putra pada 8 September 2010 pukul 21:58 ·
Facebook dan Sebuah Cerita Dibaliknya (Based on True Story)
-Part 4, The Ending-
:: Anhar Dana Putra ::
Rasa takut, cemas, tak percaya, dan syok seketika itu bergejolak di dalam dadaku setelah melihat foto yang kutemukan dalam dompet berwarna ungu itu. Membuat kakiku lemas dan dadaku sesak. Betapapun kerasnya aku berusaha untuk mempercepat langkahku, semakin kuat perasaan-perasaan itu menusuk tulang-tulang kakiku. Lalu kemudian aku tiba-tiba tersadar, siapapun wanita itu, dia tetap butuh pertolongan secepatnya. Kupercepat langkahku menuju apotek rumah sakit itu. Sekarang resep tadi telah menjelma menjadi butiran-butiran obat dan beberapa botol cairan. Walaupun tadi aku sempat bertengkar lagi dengan apoteker yang bertugas pada saat itu karena terlalu lama mencari obatnya. Aku pun berlari kembali menuju ruang UGD untuk memberikan oabat-obat dan beberapa botol cairan itu kepada perawat tadi sekaligus untuk membuktikan sebuah kenyataan yang aku harap bukan sebuah kenyataan yang pahit.
Aku belum yakin sebelum aku membuktikannya sendiri secara langsung. Aku harus melihat wajah wanita itu. Sebab sejak perjalanan dari tempat kejadian sampai ke ruang UGD aku tak berani menatap wajah wanita itu, walaupun aku lah orang yang menggendongnya sedari tadi. Aku adalah orang yang phobia dengan darah dan wajah wanita itu berlumuran darah. Entah kenapa aku nekat menggendong wanita itu dan melupakan phobiaku. Lagipula wanita yang berlumuran darah itu tak berkerudung, meskipun memang Profil picture dia tak berkerudung. Dan dia mengenakan kerudung di pertemuan pertama kami. Pokoknya aku tetap harus membuktikannya, bagaimanapun hasilnya.
Setelah memberikan obat-obat dan cairan-cairan itu kepada perawat. Dengan perasaan was-was aku pun mendekati wanita itu yang sekarang terbaring tak berdaya. Kulihat tim dokter sudah memasang bantuan oksigen di hidungnya. Pandanganku langsung mengarah kewajahnya, kuberanikan diriku untuk membasuh darah-darah yang mengering di wajahnya pelan-pelan. Lalu kutatap dalam-dalam. Tiba-tiba aku terhempas!!. Tubuhku bergetar. Kakiku semakin lemas dan dadaku semakin sesak. Aku seketika itu tertunduk dan hampir saja terjatuh. Tubuhku kehilangan keseimbangan. Kepalaku berat. Aku tak mampu lagi berdiri. Kusandarkan tubuhku ke dinding ruangan. Tanpa sadar air mataku pun menyeruak dari wadahnya. Aku pun menangis. Kenyataan ini betul-betul tak dapat kutanggung. Wanita itu betul-betul dia!!. Tak ada lagi keraguan!! Wanita itu benar-benar dia!!.
Aku pun bergegas keluar dari ruang UGD. Tak sanggup aku berada terlalu lama di ruangan itu. ku pilih salah satu kursi di depan ruang UGD untuk ku jadikan tempat meluapkan segala emosiku. Sendiri. Di kursi itu aku pun menangis, sambil berusaha membendung perasaan kecewa yang sangat dalam. Kenapa pertemuan ku yang kedua dengannya harus berlangsung seperti ini???. Kenapa dia harus dalam keadaan berlumuran darah untuk bertemu denganku yang kedua kalinya???. Kenapaaaaaaaaaaaa??? Teriakku dalam hati sambil berusaha menahan laju air mataku.
Tak lama berselang. Keluarga-keluarganya pun mulai berdatangan. Dimulai dari orang tuanya, paman dan bibinya, saudara-saudaranya sampai pacar kakaknya pun ikut datang. Saat itu aku sudah berhenti menangis. Namun, perasaan-perasaan dan pertanyaan-pertanyaan itu masih begejolak dalam dadaku, di dalam kepalaku, juga dalam hatiku. Tapi, walau bagaimana pun aku masih tetap berharap dan berdoa semoga tidak terjadi apa-apa padanya dan dia bisa kembali pulih seperti sedia kala. Aku pun memutuskan untuk beranjak pulang menuju kosan. Sebab, sudah ada yang menggantikanku menjaganya di rumah sakit, di ruang UGD. Dan mereka adalah orang yang lebih pantas berada di posisi itu dibanding aku. Sebelum pulang aku sempat bertukar nomor ponsel dengan kakaknya. Agar aku bisa meng-update keadannya setiap waktu.
Sesampainya di kosan, aku pun langsung tidur saking letihnya. Apalagi besok masih ada jadwal latihan yang juga tidak boleh aku tinggalkan. Namun, bukan berarti sebelum tidur aku tidak sempat dihantui bayang-bayang dia. Aku tiba-tiba terbawa kembali ke saat pertemuan pertama kami. Saat dimana dia berkata padaku.
“oh.. aku hanya lupa mengatakan padamu.. bahwa aku yakin kita pasti akan bertemu sekali lagi suatu hari nanti.. entah aku.. entah kamu.. atau Tuhan yang mau.. aku yakin itu!!”
Keyakinan itu, keyakinan yang sempat aku vonis sebagai ungkapan kata-kata belaka, ternyata menampakkan perwujudan kebenarannya. Dia ternyata benar, bahwa kami akan bertemu lagi suatu saat nanti. Tapi kenapa harus dengan cara yang mengerikan seperti ini? batinku. Aku sangat yakin dia tak menginginkan pertemuan kedua kami berlangsung seperti ini. Tetapi seolah-olah dia seperti sudah menyadari sebelumnya bahwa pertemuan kedua kami akan berlangsung seperti ini. Itu terbukti ketika melihat dia menambahkan opsi “.. atau Tuhan yang mau..” pada perkataannya. Dia meyakini bahwa kami akan dipertemukan kembali oleh tuhan bagaimanapun caranya, seperti apapun jalannya. Dan dia benar, kami memang kembali dipertemukan oleh Tuhan dengan cara yang mengerikan dan tak terduga menurutku.
Sudah tiga hari sejak hari kejadian dia masih terbaring koma di rumah sakit. Keterangan itu aku dapatkan dari pesan singkat yang sempat dikirimkan oleh kakaknya padaku. Sejak hari kejadian sampai hari ini, aku belum sempat menjenguknya, itu lebih karena aku juga disibukkan dengan jadwal latihan yang sudah semakin mendekati hari pementasan. Latihan tersebut tidak bisa aku tinggalkan sebab hanya aku satu-satunya orang yang berkompeten melatih teater, dan jika saja aku mangkir dari latihan maka aku yakin penampilan mereka akan amburadul, dan itu tentu saja akan mempengaruhi nama baik lembaga seni yang aku tunggangi. Jadi apapun alasannya, aku tetap harus melatih mereka.
Sepulangnya dari kampus untuk memberikan latihan. Aku langsung menuju ke kosan. Petang itu aku kembali teringat oleh dia. Aku khawatir, tiga hari adalah waktu yang cukup lama menurutku untuk terbaring koma. Aku memutuskan bahwa besok aku harus menjenguknya. Sebab, aku ingin memastikan keadaannya secara langsung. Entah kenapa setiap aku sedang sendiri, lamunanku selalu menampakkan bayang-bayangnya. Kuakui aku tidak mampu menyembunyikan perasaanku bahwa aku memang khawatir, aku memang cemas. Namun disisi lain, aku masih punya harapan bahwa dia akan kembali pulih seperti sedia kala dan dia akan menjanjikan pertemuan yang ketiga, yang keempat, atau mungkin yang kelima padaku. Walaupun pertemuan yang kedua tidak berlangsung sesuai harapan kami. Aku masih ada harapan bahwa akan ada pertemuan lain setelah pertemuan kedua itu.
Tiba-tiba ponselku berbunyi. Lamunanku tentang dia pun seketika buyar. Kontan kuraih ponselku dari atas meja disudut kosanku. Kulihat layar ponselku, ada seseorang yang memanggil. Orang yang memanggil itu adalah kakak dia. Aku terkejut. Ada apa gerangan kakaknya sampai menelponku. Sebab selama ini tidak pernah sekalipun kakaknya menelponku. Paling hanya mengirimkan pesan singkat. Aku pun menjawab panggilannya. Aku penasaran. Dan mudah-mudahan tak terjadi apa-apa dengan dia.
“halo, ada apa? apa yang terjadi?” tanyaku.
Tidak ada jawaban darinya. Yang kudengar hanya suara riuh isakan tangis dari orang-orang yang ada di seberang ponselku. Yang ku dengar hanya sedu sedan. Perasaan ku tak enak. Apa sebenarnya yang terjadi.
“halooooo, apa yang terjadiiiiii???? Tanyaku sekali lagi meninggi.
Kakaknya pun akhirnya menjawab.
“halo.. a..dik.. ku.. adikku..”
“apa yang terjadi dengan adikmu????” belum selesai kakaknya meneruskan omongannya sambil terisak-isak aku sudah memotongnya.
Sebab aku tak bisa menyembunyikan bahwa aku benar-benar khawatir. Tubuhku bergetar dari ujung kaki sampai kepalaku. Wanita itu melanjutkan.
“adikku.. sudah pergi.. meninggalkan kami.. dia sudah pulang.. dia sudah kembali.. dia sudah tidak ada lagi….”
Aku seketika itu menjadi lemas. Ponsel yang sebelumnya kugenggam dengan sangat erat kini terjatuh dari genggamanku. Belum sempat aku menutup dan menyelesaikan obrolanku dengan kakaknya. Air mataku sekali lagi mebuncah dari sudut mataku. Aku terperosok jauh kedalam lubang kepahitan. Hingga aku tak mampu menahan sakitnya. Hingga aku tak mampu menahan pedihnya. Yang kubisa hanya menangis, menagis dan menangis. Hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang. Dadaku seperti ada yang menusuk. Sesak. Aku ingin berteriak. Aku ingin melepaskan segala kepedihanku karenanya. Aku tak percaya dia benar-benar pegi. Aku tak mampu menerima kenyataan bahwa tak akan ada pertemuan yang ketiga, yang keempat, apalagi yang kelima. Dia akhirnya pergi meninggalkanku. Tanpa ada kata perpisahan, tanpa ada cinderamata peniggalan. Dia pergi. Dia benar-benar pergi. Dia benar-benar pergi.
Aku pun terbaring lemas dikamar kosan sambil menikmati tetes demi tetes air mataku bersama lamunan dan kenanganku tentangnya, lamunan yang sekarang hanya tinggal lamunan, kenangan yang sekarang hanya tinggal kenangan. Hingga perlahan-lahan aku tertidur.
Keesokan harinya, di pagi itu aku mendapatkan kiriman pesan singkat oleh kakaknya bahwa sebentar setelah dzuhur dia akan diantar ke tempat peristirhatan terakhir. Aku pun segera mengambil handuk dan mandi untuk bersiap-siap menuju kerumah duka yang letaknya cukup jauh dengan kosanku. Sesampainya dirumah duka dia ternyata sudah siap untuk diantar ke tempat peristirahatan terakhir. Mayatnya sudah dimandikan dan disholati, tinggal diantar ke tempat peristirahatan terakhirnya. Aku pun kemudian ikut kedalam rombongan pengantar.
Sesampainya di tempat peristirahatannya yang terakhir, ketika dia akhirnya di masukkan ke dalam liang lahatnya. Riuh tangis dari orang-orang yang menyayanginya pun kembali meledak. Kembali memecahkan keheningan. Banyak sekali orang yang ikut mengantarnya. Itu berarti semasa hidup dia adalah orang yang baik dan berkesan. Dan memang dia adalah orang berkesan buatku. Tak bisa aku menyangkal bahwa aku juga ikut menangis. Ada semacam perasaan miris dihatiku yang tak mampu aku kuasai. Perasaan itu yang akhirnya memaksa otakku untuk menyuruh mataku mengeluarkan air-air dari ujungnya. Ya. Aku memang menangis sekali lagi.
Sekarang dia sudah dikebumikan. Pusara bertuliskan nama, tanggal lahir, dan tanggal kepergiannya sudah berdiri. Dan semua orang telah beranjak dari tempat dia tertidur untuk selamanya. Kecuali aku yang ingin tinggal menemaninya sejenak. Untuk sekedar mengobrol dengannya sebelum dia terbang ke angkasa sana.
Sembari memegangi ujung pusaranya, aku pun bergumam dalam hati, sambil masih saja menangis.
“mulai hari ini aku bersumpah.. kelak akan kuceritakan kisah ini kepada siapa saja yang aku temui.. meskipun harus menangis sekali dan sekali lagi.. agar aku bisa berharap bahwa kau akan hadir disana saat itu.. untuk mendengar setiap kata yang keluar dari bibirku.. meresapi setiap tetes yang jatuh dari ujung mataku.. agar aku bisa tenang.. agar aku bisa melunasi janjiku padamu untuk menceritakan hidupku padamu.. sebab kau tau.. mulai hari ini kau telah menjadi bagian dari hidupku.. yang akan selalu hadir dalam setiap helaan nafasku..”
Aku pun akhirnya pulang dengan perasaan luka yang sangat dalam. Dan senantiasa berdoa untuknya agar dia bisa tenang di alam sana.
Kuhaturkan doa untuk permadani ungu yang mengantarmu kesana..
Semoga kau baik-baik saja disana..
Kelak ketika hujan turun membasahi langit dan bumi..
Menarilah di garis pelangi yang berwarna ungu..
Agar aku bisa memandangi mu dari sini..
Sambil menikmati secangkir rasa yang tak akan pernah lepas oleh dahaga..
Dahaga rinduku padamu dan ungumu..
::TAMAT::
Epilog:
Cerita ini diangkat dari kisah hidup yang dilakoni dan dialami langsung oleh salah seorang sahabat saya yang bernama Adi Punggawa (ada diantara 30 orang teman yang saya tag dalam tulisan ini).
Untuk itu..
Saya sangat berterima kasih padanya karena telah berbesar hati membagikan kisah yang luar biasa ini kepada saya, meskipun harus memaksanya meneteskan air mata sekali lagi.
Saya juga sangat berterima kasih karena telah memberikan kepercayaan kepada saya, ketika saya meminta untuk menuliskan kisahnya ini menjadi sebuah tulisan berbentuk prosa.
Sungguh suatu penghargaan dan pengalaman yang sangat luar biasa karena diberi kesempatan untuk menuliskan salah satu dari sekian banyak kisah hidup yang dititipkan Tuhan kepada setiap orang, dan kisah ini sungguh sebuah kisah hidup yang sangat luar biasa.
Dan yang terakhir,
tulisan ini saya dedikasikan untuk Almh. Rahdiana ‘Nana’ (1992-2010)..
Semoga arwah beliau senantiasa dilimpahi ketenangan dan kedamaian disana..
Amin..
Facebook dan Sebuah Cerita Dibaliknya (Based on True Story) -Part 4, The Ending-
Posted by Qmal Group
|
|
Demo Blog NJW V2 Updated at: 08:51

0 comments:
Post a Comment