oleh Anhar Dana 'Dajju' Putra pada 9 November 2011 pukul 0:55
"eh, anak perawan ga boleh duduk di depan pintu loh..!" celetuk saya pada seorang teman yang kebetulan sedang berjongkok memasang kaos kakinya, tepat di depan pintu mushollah, sehabis sholat. Sesaat sebelum saya masuk ke dalam.
Kemudian, tiba-tiba ada cibiran yang terdengar dari temannya teman saya yang jongkok di depan pintu itu yang kebetulan juga adalah teman saya dan kebetulan lagi ada di situ -maaf, ribet, iya, dia emang kadang-kadang suka ribet-. (ihihihi :P)
"ah! ajaran primitif! hehe.." cibirnya sambil tertawa kecil kecil
Fokus saya yang tadinya sudah lumayan terkumpul untuk melaksanakan sholat ashar, mau tak mau buyar oleh cibiran itu. Sebenarnya saya sempat mengeluarkan argumen balasan, tapi sepertinya dia tidak sempat mendengarnya, sebab sebelum saya menyelesaikan argumen balasan saya, pemilik cibiran itu sudah pergi meninggalkan mushollah.
Saya sebenarnya mau bilang begini..
"Bukan.. Bukan ajaran primitif, itu Pamali, dan menurut saya, Pamali selain merupakan warisan nenek moyang, juga merupakan sebuah narasi konservatif -cerita masa lalu- yang memuat nilai-nilai tentang etika dan kearifan, jadi perlu untuk kita pertahankan.."
Sependapat?
Hmm, agaknya, beberapa diantara kawan-kawan, punya pandangan yang berbeda. Dan bisa jadi bukan beberapa, malah sebagian besar. Karena kebanyakan dari kawan-kawan -termasuk saya- itu lahir, besar dan hidup di Global Age, Zaman yang ditandai dengan terkikis dan terbunuhnya pamali oleh paham-paham global nan modern yang mapan dan logis namun miskin etika serta kering kearifan (at least in my point of view).
Terkikis dan terbunuh, karena pamali dianggap tidak memiliki unsur dasar dan utama untuk bisa survive di era tersebut, yakni rasionalitas. Bahkan mungkin karena saking tidak rasionalnya, di dalam Kamus Besar bahasa Indonesia -yang notabene lengkap berisikan kosakata bahasa indonesia beserta artinya, kata pamali tidak di makhtubkan.
Namun, seprimitif dan setidak-rasional apapun pamali itu kelihatannya (kedengarannya), jika kita rela untuk sedikit mengkaji kemudian menarik value (nilai) yang terkandung secara implisit didalamnya, kita akan menemukan sebuah ajaran tentang kearifan, tentang etika, tentang norma dan tentang kesantunan. Meskipun pamali -memang- diwariskan dengan menggunakan media narasi-narasi analogi yang cenderung terkesan kuno dan mengada-ada.
kita tarik contoh beberapa pamali yang mudah-mudahan masih akrab dengan telinga kita.
Anak perawan jangan duduk di depan pintu
Jangan tidur saat menjelang maghrib
Jangan menolak makanan sebelum bepergian
Jangan menyisakan makanan
Jangan makan nasi menggunakan piring kecil
Jangan menggunakan payung dalam rumah
contoh-contoh diatas adalah sebagian kecil dari sekian banyak pamali yang pernah hidup berdampingan dengan harmonis bersama nenek moyang dan orang tua kita dahulu.
Baiklah, mari kita telanjangi contoh-contoh pamali diatas, dengan melakukan interpretasi menggunakan pendekatan filosofis, agama dan norma yang berlaku.
Anak perawan jangan duduk depan pintu. (1) Sekilas, mungkin akan terdengar lucu, tapi coba kita maknai. Bagaimana betul-betul dihargai dan dijaganya harkat martabat seorang perempuan, dimana perempuan dijauhkan dari perilaku-perilaku yang berpotensi merendahkan harkat dan martabatnya. Sebab pintu adalah akses umum, diharapkan perempuan tidak sembarangan di'akses' oleh umum. Mengingat predikat "mulia" yang melekat pada diri seorang perempuan, dan selayaknya melahirkan sebuah kompensasi berupa pengorbanan yang setara pula dengan kemuliaan tersebut untuk meng'akses'nya. (2) Filosofi yang jauh lebih sederhana, yakni, dengan duduknya seseorang di depan pintu tentunya akan menghambat akses keluar masuk penghuni rumah atau tamunya.
Jangan tidur saat menjelang maghrib. (1) Jika kita menggunakan pendekatan agama, Rasulullah SAW sama sekali tidak menganjurkan tidur pada waktu menjelang maghrib, sebab ditakutkan akan mengakibatkan terlewatnya kewajiban sholat maghrib. (2) Tidur adalah rutinitas alamiah manusia dimana didalamnya terjadi proses peremajaan sel-sel tubuh yang telah mati, untuk itu ada waktu-waktu tertentu yang memang merupakan waktu yang disarankan untuk tidur oleh para pakar kesehatan, seperti malam har,i karena kondisi dan suasana saat malam hari itu relevan dalam mengoptimalkan proses peremajaan sel-sel tubuh (regenerasi sel-sel mati). Dan ternyata, tidur saat menjelang maghrib akan menyebabkan tidak optimalnya proses tersebut, bahkan jika sudah menjadi kebiasaan justru akan merusak atau mengakibatkan terjadinya penyimpangan proses regenerasi sel-sel mati.
Jangan menolak makanan sebelum bepergian dan Jangan menyisakan makanan. (1) Sangat jelas dalam dua poin ini bahwa, value yang ditonjolkan adalah bagaimana penghargaan dan rasa syukur terhadap makanan yang merupakan kebutuhan dasar manusia. Dimana manusia kerap kali mendapatkan masalah dan menanggung resiko yang besar dalam proses pemenuhan kebutuhan tersebut. Diharapkan kita tidak menjadi sombong dan lupa diri mengingat begitu sulitnya memperoleh makanan, bahkan ada sebagian orang yang untuk memenuhi kebutuhan ini saja harus mati-matian banting tulang setiap harinya. (2) Poin ini juga menyiratkan bahwa penolakan terhadap sebuah ajakan atau undangan dikhawatirkan akan menyebabkan rasa sakit dan ketersinggungan yang bisa jadi berujung terjadinya konflik, baik psikologis ataupun fisik. Disamping karena sesuai norma, kita seharusnya tidak saling menyakiti dan melukai sesama.
Jangan makan nasi menggunakan piring kecil dan Jangan menggunakan payung dalam rumah. Analogi dari kedua poin ini secara tidak langsung berbicara tentang bagaimana menempatkan sesuatu sesuai tempatnya, tentang bagaimana menggunakan sesuatu sesuai fungsinya. Dalam taraf yang lebih mendalam, kedua poin ini mengandung ajaran tentang hakikat keadilan, dan tentang hakikat keseimbangan, keselarasan serta keharmonisan. Sejalan dengan main goal kita sebagai manusia, yakni seimbang dan selaras dalam menjalani tiga elemen berkehidupan. Manusia dalam berhubungan dengan mahluk hidup yang lainnya, manusia dalam hubungannya dengan sesama manusia (Hablum Minannas), serta yang terakhir dan utama yakni manusia dalam hubungannya dengan Sang Pencipta (Hablum Minallah).
Dari beberapa contoh pamali yang sempat kita kaji diatas, saya pun akhirnya mengambil kesimpulan, bahwa:
Pamali meskipun sekilas terlihat (terdengar) primitif, tidak rasional dan mengada-ada, ternyata mengandung makna dan ajaran tentang kebijaksanaan, kearifan dan etika yang sangat dalam dan mendasar. Jadi, saya secara pribadi berharap, agar pamali tetap terus ada dan terpelihara, sehingga manusia masih bisa terus terjaga dan terpelihara oleh kebijaksanaan, kearifan dan etika.
Demikian sekelumit intrepetasi saya sendiri dari sebagian kecil pamali yang bisa saya ambil sebagai contoh. Tentunya masih ada sekian banyak pamali yang hidup di lingkungan sekitar dan menunggu untuk kawan-kawan kaji dan tarik pelajaran darinya, sebelum akhirnya benar-benar mati karena terkikis oleh peradaban.
Semoga kita semua bisa menjadi manusia-manusia yang arif dan bijaksana.
Wallahu ‘Alam Bish Shawaab
(Beranda Shohibullail, Anhar Dana Putra, 2011)
Pamali Bukanlah Ajaran Primitif
Posted by Qmal Group
|
|
Demo Blog NJW V2 Updated at: 09:08

0 comments:
Post a Comment