Retro Viseur (kaca spion) -bagian kedua-

Posted by

oleh Anhar Dana 'Dajju' Putra pada 11 Mei 2010 pukul 17:32 ·

Karena kebiasan unik atau lebih tepatnya kebiasaan anehku ini, aneh karena supir mana yang mau membuang-buang waktunya dan menantang resiko dengan seringkali memperhatikan penumpangnya lewat kaca spion sambil mengemudi. Aku lambat laun menghapal rupa dari penumpang-penumpang yang setiap harinya menumpangi bisku, setiap harinya mempertaruhkan seluruh deadline yang ditawarkan hidup untuk mereka, pada seorang supir sepertiku. Aku menyebut mereka penumpang tetap. Secara otomatis, aku juga bisa langsung tahu penumpang-penumpang yang baru pertama kali menumpangi bisku hanya dengan sekali liat. Aku menyebut mereka calon penumpang tetap.



Dua minggu yang lalu, daftar calon penumpang tetap bisku bertambah satu orang lagi. Dia seorang wanita muda, berambut panjang lurus sepunggung, bergelombang -atau mungkin sengaja diblow- pada ujung rambutnya, trend rambut masa kini kata anakku. Kulitnya putih tapi tak oriental, langsing dan cukup tinggi untuk seorang wanita. Aku rasa wanita itu punya potensi jadi model iklan kecantikan, dipoles sedikit saja dia sudah bisa dikatakan sebagai simbol kecantikan nusantara. Pernah sekali aku berpapasan mata dengannya, aku terpesona dan membuatku hampir menabrak seekor kambing yang kebetulan melintas. Sejak saat itu aku tak berani lagi menatap matanya.



Sudah dua minggu ini wanita itu naik ke bis dari halte yang sama setiap harinya, halte ketiga, dan hampir selalu tepat pada jam 9 pagi. Cukup disiplin sebagai seorang wanita muda. Tapi jika dilihat dari celana jins dan rompi blazer yang selalu membalut tubuhnya setiap pagi, tampaknya dia bukan seorang pekerja kantoran. Dia selalu turun tepat didepan sebuah kantor LSM yang bergerak dibidang pemberdayaan wanita, yang juga berada pada jalur bisku. Mungkin saja dia adalah salah seorang aktifis dari LSM tersebut.



*********



Tepat seminggu yang lalu, hari itu adalah hari senin yang dingin dan basah. Hujan turun dengan buasnya sejak subuh. Membasahi seluruh permukaan jalan. Menggenangi lubang-lubang jalan dengan airnya. Tidak biasanya pemuda itu sudah berada di halte pertama sepagi itu, jam 7.30 pagi. Dia kelihatan terburu-buru sambil menenteng map-map berisi tumpukan kertas bertuliskan sesuatu. Aku tak dapat membacanya dari sini, dari balik kemudi. Setelah beberapakali menajamkan penglihatanku, aku akhirnya menyimpulkan bahwa sampai kapanpun aku tak dapat membaca tulisan di kertas-kertas itu. Aku cuma penasaran.



Aku kemudian kembali mengemudi. Waktu itu hujan terus bergemuruh sepanjang perjalanan menuju halte ketiga. Pemuda itu menghabiskan 90 menit yang harus ditempuh bisku untuk sampai ke halte ketiga hanya dengan mengamati pemandangan dari balik jendela, kemudian sesekali menunduk seperti sedang menulis sesuatu. Hujan mereda ketika bisku sampai ke halte ketiga. Kulihat ekspresi terkejut terpancar dari wajah pemuda itu, yang kemudian sontak mengalihkan pandangannnya dari jendela menuju pintu bis ketika seorang wanita masuk ke dalam bisku. Wanita itu adalah wanita yang sama dengan wanita yang hampir memaksa wartawan kota menulis berita yang konyol dikoran. “sebuah bis angkutan umum mengalami kecelakaan fatal gara-gara menghindari seekor kambing!!”.



Wanita itu duduk tepat didepan pemuda itu. Sampai wanita itu turun tepat didepan sebuah kantor LSM, yang letaknya tak jauh melewati halte keempat, mata pemuda itu terus menatap lurus ke rambut bagian belakang wanita itu. Pemuda itu seakan-akan terhipnotis oleh wanita itu. Pemuda itu terus melamun sambil tersenyum sepanjang perjalanan dari LSM sampai bisku berhenti tepat di univesitas tujuan pemuda itu, yang letaknya tak jauh melewati halte kelima. Pemuda itu terlihat lucu melamun seperti itu.

Besok harinya, hari selasa, pemuda itu kembali berdiri di halte pertama jam 7.30 pagi. Kali ini dia tidak kelihatan terburu-buru. Seperti sudah dia rencanakan sebelumnya. Pemuda itu terlihat rapi. Sama seperti biasa, pemuda itu menulis sesuatu di kertas sepanjang jalan menuju halte ketiga. Ketika bisku berhenti di halte ketiga, terlihat pemuda itu mendongakkan kepala, berusaha melihat menerobos jendela ke arah halte tersebut. Kemudian kembali bersandar sambil mengelus dada dan tersenyum, ketika wanita yang telah menghipnotisnya kemarin, masuk ke dalam bis, tepat jam 9 pagi. Wanita itu kebetulan duduk tepat didepan pemuda itu lagi. Pemuda itu tersenyum lebih lebar dari sebelumnya, membuatku juga ikut tersenyum bersamanya.



Hari rabu, kamis, jum’at, dan sabtu berlalu dengan kejadian yang serupa. Pemuda itu tetap berdiri di halte pertama jam 7.30 pagi, agar dia bisa memandang wanita itu sekali dan sekali lagi, naik dari halte ketiga jam 9 pagi. Dia selalu kelihatan gelisah setiap kali bisku berhenti di halte ketiga. Dia kelihatan sedang menunggu seseorang. Dan aku tau seseorang itu adalah wanita itu. Pernah satu kali, aku lupa hari apa, aku mendapati pemuda itu berdiri, seperti ingin pindah ke samping wanita itu yang kosong. Tapi entah kenapa dia mengurungkan niatnya, dan kembali duduk. Padahal aku sudah susah payah memberikan dukungan lewat kaca spion untuk terus maju mendekati wanita itu. Aku memukul kepalaku ketika dia mengurungkan niatnya itu. Dia tak cukup berani, bahkan untuk menanyakan namanya.



Hari ini hari minggu, Pagi ini seperti tidak seperti pagi-pagi sebelumnya. Aku berangkat dari rumah lebih cepat setengah jam dari biasanya, menuju stasiun. Sudah seminggu ini aku memperhatikan keanehan-keanehan dari pemuda itu, misalnya tidak berhenti menatap wanita itu sepanjang perjalanan, melamun, tersenyum, sesekali menunduk dan menuliskan sesuatu di kertas selama perjalanan. Dan hari ini aku menemukan jawabannya. Aku rasa pemuda itu sedang jatuh cinta. Bukan jatuh cinta biasa. Melainkan jatuh cinta kepada seorang wanita yang baru seminggu ini menjadi penumpang tetap di bisku. Cinta yang kelihatan sederhana tapi menyimpan rasa yg sangat dalam menurutku.

Namun di hari minggu ini, tepat jam 9 pagi bisku berhenti di halte ketiga. Keanehan terjadi!!. dari setiap penumpang yang naik ke bis di halte ketiga, tidak satupun dari mereka adalah wanita itu. Pemuda itu terkejut, wajahnya memucat kehilangan darah, kehilangan cinta. Tak henti-hentinya pemuda itu mendongakkan kepala kekiri dan kekanan mencari wanita itu, memandang setiap penumpang yang masuk, sampai pemuda itu memutuskan untuk turun dari bis di halte ketiga itu, dan aku harus tetap terus mengendarai bisku, mengantar penumpang yg lain.



Ingin rasanya aku menemani pemuda itu mencari wanita itu. Kulihat wajah penuh putus asa ketika sudah tidak ada orang lagi yg berdiri di halte itu. Kulihat dia menunduk sambil memegangi kepala, ekspresi kekecewaan yang dalam mencuat di seluruh tubuhnya, tepat didepan halte. Dia takut, seakan-akan dia tidak akan bertemu lagi dengan wanita itu. Sampai perlahan-lahan dia menghilang dari layar kaca spionku. Dan aku terus berjalan, menahan perasaan miris dihatiku, aku seperti ingin menangis. Aku pun takut pemuda itu tak lagi bertemu dengannya.



*********



TO BE CONTINUED to Retro Viseur -bagian ketiga-


Demo Blog NJW V2 Updated at: 08:25

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Flexible Home Layout

Tabs

Main menu section

Sub menu section