Retro viseur (kaca spion) -bagian ketiga, the ending-

Posted by

oleh Anhar Dana 'Dajju' Putra pada 13 Mei 2010 pukul 22:18 ·

Sepanjang perjalanan yang aku lalui dari halte ketiga sampai stasiun akhir, pikiranku terus melayang ke tempat peraduan kekecewaan dan keputu-asaan pemuda itu. Penyesalan dan kesedihan terus menjamah isi dalam dadaku, bahkan ketika aku sedang istirahat untuk bersiap-siap memulai perjalanan kembali dari stasiun akhir menuju stasiun awal. Ekspresi kekesalan pemuda itu terus menggerogoti akal sehatku, membuatku sekilas berfikir kenapa aku tidak berhenti saja dan ikut membantunya mencari wanita itu, tadi. Tapi supir adalah supir, tugasnya adalah mengantar penumpang, bukan menemani seorang pemuda mencari cintanya yang hilang.



Sekarang waktunya untuk kembali memulai perjalananku menuju stasiun awal, kuhabiskan kopiku, kemudian kunyalakan mesin bisku. Bisku melaju kencang meninggalkan asap hitam yang senantiasa keluar dari knalpot bisku dan kemudian terbang entah kemana, orang-orang menyebutnya polusi. Aku baru saja melewati kampus pemuda itu, aku kembali teringat olehnya, kemudian kuhapus, sebab aku butuh konsentrasi lebih untuk mengemudi pada saat petang. Sampai di halte kelima, tak ada orang disana, kemudian kulanjutkan perjalanku. Aku baru saja melewati kantor LSM, tempat yang selalu menjadi tujuan dari wanita itu, aku berharap menemukan wanita itu disana, tapi nihil, wanita itu tak ada. Kemudian aku sampai di halte keempat yang ternyata juga tak ada orang disana. Malam belum larut, namun sampai sekarang belum ada satupun penumpang yang naik ke bisku, ini mungkin balasan dari Tuhan kepadaku karena tidak berani membantu pemuda itu tadi. Tapi itu tidak mungkin!!.



Kulanjutkan perjalananku, mau ada penumpang atau tanpa penumpang sekalipun toh aku tetap harus meneruskan putaran roda-roda bisku. Tapi tiba-tiba tubuhku bergetar, perasaanku berdebar, seakan ada sesuatu didalam dadaku yang meledak hebat dan menggelegar. Aku kemudian tersadar, perasaanku ini bisa muncul karena tujuanku berikutnya adalah halte ketiga. Tempat itu sudah menjadi tempat yang mempunyai arti bagiku, bagi pemuda itu, tapi belum tentu bagi wanita itu.



Sekitar 200 meter lagi bibir bisku akan mencumbu halte ketiga. Dari balik kemudi, halte itu sudah samar-samar kelihatan olehku. Ada penumpang di sana, satu orang!!. Perasaan berdebar yang kurasakan sekarang bercampur dengan perasaan senang karena salah satu dari kursi-kursi bisku akhirnya akan melepas masa jomblonya, meskipun hanya satu kursi.

Bisku sudah sampai di halte ketiga. Aku berhenti dan menarik gagang dari balik kemudi agar pintu bis terbuka. Orang itu naik, aku merasa aneh, langkahnya terasa lemah, dan orang itu terus merunduk. Kulirik lewat kaca spion ketika orang itu sudah memilih salah satu kursi lalu kemudian duduk. Aku terhenyak, orang itu adalah pemuda itu!!!. Kuraih jam tanganku yang kusimpan diatas dasbor bisku. Sekarang sudah jam 7.30 malam. Tak ku sangka pemuda itu masih ada disini. Apa yang dilakukan pemuda itu masih tetap disini sejak jam 9 tadi pagi. Sungguh perjuangan yang luar biasa menurutku. Mungkin saja dia ingin menunggu pagi, sehingga dia bisa bertemu dengan wanita itu jam 9 pagi besok. Atau mungkin saja dia belum pulang karena menunggu bisku datang, menunggu aku mengantarnya pulang. Mungkin saja kedua-duanya.



Pemuda itu masih tetap tertunduk lesu. Entah karena dia belum makan sedari pagi atau mungkin karena jiwanya sedang merasakan dahaga yang menggerogoti seluruh tubuhnya, dahaga akan sebelah jiwanya yang hilang. Pemuda itu seakan tak punya hasrat lagi untuk mendongakkan kepala, bahkan tersenyum pun tidak. Ini pertama kalinya pemuda itu naik tanpa senyuman di kaca spion. Aku sekali lagi miris. Ingin rasanya aku mendekatinya dan menepuk pundaknya sambil mengatakan “semangatlah, kalau jodoh tak kemana!”. Kubunyikan mesinku. Dan berniat melanjutkan perjalananku.50 meter sudah roda-roda belakang bisku meninggalkan halte ketiga ketika tiba-tiba aku mendengar suara teriakan memanggil bisku dari arah belakang. Aku berhenti. Lalu kualihkan persenelingku menuju huruf R. aku kembali ke halte itu, kembali ke arah teriakan tadi, sambil melirik ke kaca spion untuk melihat siapa gerangan orang yang berteriak itu. Gagang pintu ku tarik untuk membuka pintu. Pemilik teriakan itupun naik setelahnya.



Namun apa yang terjadi, aku sekali lagi terhenyak, bukan, sekarang aku benar-benar terkejut, sampai-sampai melihatnya dari kaca spion saja aku tak puas, aku memalingkan wajahku. Pemuda itu mengalami hal yang sama denganku, namun tingkatannya lebih dahsyat dariku. Membuat pemuda itu mendongakkan kepala, matanya terbelalak, mulutnya terbata-bata, kurasakan getaran tubuhnya dari sini. Tapi sesaat kemudian tersenyum. Pemuda itu tersenyum. Kurasakan Kekecewaan, penyesalan, kekesalan, keputus-asaan, dan kesedihan pemuda itu seketika lenyap, membaur bersama debu yang teruntai di udara. Membasuh miris dihatiku.

Pemilik teriakan itu adalah orang yang kami tunggu-tunggu, orang yang kami cari-cari, cinta yang hilang, separuh jiwa yang lenyap. Pemilik teriakan itu adalah wanita itu!!. Ya, wanita itu!!. Sungguh kejutan yang indah bagi pemuda itu. Sambil menenteng amplop berwarna putih,



Wanita itu kemudian beranjak untuk duduk. Dia memilih kursi tepat dibelakangku. Aku pun melanjutkan perjalananku. Kulihat senyum itu masih terlukis di wajah pemuda itu sembari menatap lurus kearah wanita didepannya, tepat dibelakangku. Kulihat dia seakan memikirkan sesuatu sejenak, lalu kemudian berdiri, pemuda itu berdiri, melangkah kedepan mendekati wanita itu dengan mantap. Mungkin inilah saatnya pikirku. Inilah saat yang kutunggu-tunggu. Beginilah seharusnya menjadi seorang pemuda. Berani. Seperti aku ketika melamar istriku 20 tahun yg lalu.



Pemuda itu sudah ada di samping wanita itu seketika. Untung saja wanita itu memilih kursi tepat di belakangku. Jadi aku bisa mendengar obrolan mereka.

“hmmmm.. bo.. boleh aku du.. duduk di samping ka.. kamu..?” pinta pemuda itu terbata-bata.

“oh.. silahkan..” jawab wanita itu mantap sambil tersenyum.

Adrenalinku pun memuncak. Aku merasa senang sekali akhirnya pemuda itu sekarang punya cukup keberanian untuk mulai mendekati wanita itu. Mereka kemudian melanjutkan obrolan setelah beberapa menit dalam diam.

“a… aku sudah lama mempehatikanmu, a… aku bahkan ta.. tau jam berapa biasanya kau naik ke.. ke bis ini.. jam 9 pagi bukan?”. Aku pemuda itu masih tetap terbata-bata.

“oh ya? Hhehehe..” timpal wanita itu sambil tertawa.



Pemuda itu ikut tertawa. Pemuda itu memang sering tersenyum di bisku, tapi baru kali ini aku melihat pemuda itu tertawa selepas itu. Kurasakan aura kebahagiaan itu mengalir di seluruh tubuhnya. Aku pun tersenyum. Kaca spion itu seakan juga ikut tersenyum. Aku pun kembali fokus untuk mendengar obrolan yang baru saja mulai lagi.

“hmmm… boleh aku tau namamu???” Tanya pemuda itu.

“oh tentu.. namaku…”



Aku sedang berkonsentrasi mendengar obrolan mereka ketika kulihat didepanku ada cahaya lampu mobil yang menyilaukan mataku. Ternyata bisku berubah haluan, aku tak sadar ban bisku melewati garis tengah jalan. Aku panik, aku tak tahu harus berbuat apa, tanganku gemetaran. Bis ku melaju terlalu kencang, aku tak kuasa menginjak remnya, mobil itu sudah tepat berada didepanku. Bibir mobil itu sedikit lagi berciuman dengan bibir bisku ketika aku kemudian membanting setirku ke arah yang berlawanan. Bisku kehilangan keseimbangan dan terbanting. Aku terlempar keluar menembus kaca depan. Kulihat segala yang ada disekelilingku terputar, dan aku jatuh. Aku pingsan, tak sadarkan diri.

*********



Aku kemudian sadar. Aku sekarang berada di ruang Unit Gawat Darurat Rumah sakit Umum didaerah itu. Di sampingku sudah ada istri dan anakku yang seperti baru saja menangis. Mata mereka membesar tak seperti biasanya. Aku bersyukur masih bisa selamat setelah terpelanting dan terbentur ke tanah. Tiba-tiba aku teringat dengan pemuda dan wanita itu. Aku mengamati setiap pasien yang ada di ruangan itu satu demi satu, siapa tahu aku menemukan mereka. Tapi mereka tidak ada. Mungkin diruangan lain, jawabku menenangkan diriku. Lengan kiriku patah kata istriku, kepala, kaki dan punggungku lecet tapi tak begitu parah. Yang parah hanya lenganku. Sebentar lagi kami akan pindah kekamar perawatan kata anakku.

Sesampainya di kamar perawatan aku kemudian menyalakan TV yang ada di dalam kamar. Kupindahkan ke saluran berita terkini. Aku menyimak dan akhirnya berita yg ku tunggu disiarkan.



“sebuah kecelekaan maut terjadi sekitar jam 8.15 tadi malam. Sebuah bis angkutan umum terpelanting jatuh menabrak kios penduduk di pinggir jalan. Di pastikan ada tiga orang di dalam bis itu. 2 orang penumpang bersama supirnya. Supir tersebut berhasil selamat tapi menderita luka-luka yang cukup berat.. Namun naasnya kedua orang penumpang tersebut tewas pada kecelakaan itu!!...........”



Belum selesai reporter itu meneruskan beritanya, aku sudah mematikan TV. Tak sanggup aku menerima kenyataan ini. Aku tak percaya mereka sudah meninggal. Dan aku lebih-lebih tak percaya aku yang menyebabkan mereka pergi. Seluruh tubuhku kaku, aku memang merasakan sakit karena luka-luka ini, tapi luka di dalam dadaku jauh lebih sakit. Aku telah gagal menunaikan tugas mulia seorang supir mengantar penumpang ke tempat tujuan dengan selamat. Selain itu, aku telah membunuh kebahagiaan yang baru saja didapatkan pemuda itu. Aku bukan hanya merenggut separuh jiwanya tapi seluruh jiwa pemuda itu. Aku baru saja melenyapkan sebuah cinta yang baru bersemi di atas bisku. Tanpa sadar air mataku keluar dari ujung mataku, bercucuran tiada henti. Dadaku sesak sekali, perasaan menyesal memenuhi isi dadaku. Aku tidak dapat menanggung perasaan ini. Aku ingin berteriak. Aku gagal. Dan Aku pingsan, tak sadarkan diri sekali lagi.





1 bulan kemudian…





Sekarang aku sudah sembuh, walaupun masih ada gips yang membalut lengan kiriku, tapi luka dikulitku sudah mengering. Sudah tiga minggu aku keluar dari rumah sakit. Aku mendengar dari rekanku sesama supir bahwa bangkai bisku sekarang di drop di tempat penampungan bangkai mobil di dekat stasiun. Tanpa pikir panjang aku pun ke sana. Berharap menemukan sesuatu disana. Sesampainya di sana, aku kemudian masuk ke dalam, menuju ke balik kemudi. Kursi-kursi yang memang sudah rongsok sekarang tak berbentuk kursi lagi. Kaca-kaca jendela bisku pecah. Dinding kiri-kanan semua penyok. Tapi anehnya, kaca spion itu tetap utuh, kacanya tak pecah, walaupun terlepas dari gagangnya. Kaca spion itu kutemukan di atas dasbor yang hancur. Aku lalu meraihnya, kugenggam sembari mengingat sejuta kisah yang pernah kaca spion itu tawarkan padaku sebelum kejadian itu. aku merinding.



Setelah kaca spion itu ku ambil dan kumasukkan ke dalam tas yang kubawa, aku berbalik untuk pulang. Tapi tiba-tiba tumpukan kertas dan amplop putih di kursi belakang kursi supir menahanku. Ku ambil mereka lalu kubuka. Sepintas aku teringat bahwa tumpukan kertas inilah yang sering di bawa dan ditulisi sesuatu oleh pemuda itu ketika naik bisku dan amplop ini adalah amplop yang ditenteng oleh wanita itu di hari kecelakaan. Tumpukan kertas inilah yang selalu berhasil membuatku penasaran. Tumpukan kertas itu ternyata berisi gambar-gambar sketsa pensil wajah wanita itu yang dbuat oleh pemuda itu. wanita itu terlihat cantik dalam sketsa ini, mirip sekali dengan aslinya. Tapi di balik lembar terakhir ada sebuah puisi, ternyata puisi inilah yang selalu ditulis oleh pemuda itu sepanjang perjalanan. Penasaran dengan amplop itu aku kemudian mebukanya. Ternyata isi dari amplolp itu adalah surat tugas yang berisi instruksi melakukan investigasi terhadap dugaan penjulan wanita-wanita didaerahku selama enam hari, terhitung hari senin sampai hari sabtu. Sekarang aku tau kenapa wanita itu tidak ada di halte ketiga hari itu. Rupanya masa tugasnya sudah selesai hari minggu. Dan mirisnya hari kecelakaan itu adalah hari dimana wanita itu ingin pulang ke kampung halamannya. Membuatku tak mampu lagi menyembunyikan perasaan menyesal yang terus hinggap dihatiku setelah kejaidan itu. Membuatku bergetar. Kubuka kembali salah satu sketsa yang dibaliknya ada puisi pemuda itu, puisi itu lalu kubaca perlahan-lahan.







Aku pernah melihat cahaya berwarna jingga yang menembus awan menikam laut..

Indah..

Tapi cahaya wajahmu membuatku tak mampu mebedakan warna..

Seperti tak ada kata yang cukup untuk menggambar cahaya wajahmu..



Aku pernah mendengar bahasa penuh makna menggugah jiwa..

Indah..

Tapi bahasa tubuhmu membuatku tak mampu berbicara..

Seperti tak ada kata yang cukup untuk menutur bahasa jiwamu..



Aku pernah merasakan getaran alam yang tiada tara..

Indah..

Tapi getaran hatimu membuatku tubuhku tak berdaya..

Seperti tak ada kata yang cukup untuk menalar getaran hatimu..



Aku tak tahu siapa dirimu..

Tapi..

Siapapun namamu..

Aku akan terus memanggilmu..

Pesona…



Mataku meneteskan air-airnya ketika membaca puisi itu. sangat indah. Sangat tulus. Mungkin Itulah yang pemuda itu rasakan ketika pertama kali melihat wanita itu. aku seketika itu kembali teringat mereka. Membuatku tak bisa lagi membendung ribuan air mataku yang memaksa keluar. Sekarang mereka sudah ada diatas sana. Aku tau sekarang tak ada lagi batas diantara mereka. Mereka pasti sekarang sudah saling mengobrol disana. Saling menanyakan nama. Saling mebagi senyuman. Saling berbagi cerita dan tawa. Saling memberikan kasih sayang. Saling bertukar cinta. Aku yakin mereka pasti akan bahagia disana. Aku yakin itu!!.



Sudah waktunya pulang. Kumasukkan tumpukan kertas itu kedalam tasku bersama kaca spion itu. kaca spion yang selama ini menawarkanku sejuta kisah kehidupan. Sebuah jendela yang selama ini mengajarkanku sejuta rasa kehidupan. Sebuah layar yang selama ini menampilkan sejuta kasih dan cinta kepadaku. Inilah yang membuat kaca spion itu sangat berarti untuku. Sungguh sangat berarti untukku. Dengan langkah berat aku pun pulang. Membawa benda-benda sangat bermakna itu didalam tasku. Benda-benda, yang menyimpan kenangan yang sangat dalam. Kenangan yang hanya aku, seorang pemuda, seorang wanita dan Tuhan yang tahu.



........THE END.....


Demo Blog NJW V2 Updated at: 08:16

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Flexible Home Layout

Tabs

Main menu section

Sub menu section