oleh Anhar Dana 'Dajju' Putra pada 11 Mei 2010 pukul 0:51 ·
Supir bis angkutan umum dalam kota adalah sebuah pekerjaan yang cukup melelahkan menurutku. bagaimana tidak? setiap harinya aku menghabiskan 14 jam hanya duduk diatas mobil dibalik kemudi. berangkat dari stasiun jam 6 pagi, kembali ke stasiun jam 10 malam, begitu setiap harinya. Terkadang aku juga merasa bosan, karena jalan yang aku lalui itu-itu saja, jalur yang sama, halte yang sama, pemandangan yang sama, bahkan ada beberapa penumpang yang sama tiap harinya.
Namun, ada satu hal yang membuatku tetap bertahan menjalani pekerjaan ini selain upah yang aku dapatkan, membuat saya merasa menikmati perjalanan demi perjalanan yang aku lalui tiap harinya. Hal itu adalah kaca spion!! lebih tepatnya kaca spion tengah diatas dasbor bis yang aku kemudikan. Kaca spion itu selalu seolah-olah membawaku masuk ke dalam cerita kehidupan setiap penumpang. Aku sudah menjadi terbiasa memperhatikan setiap penumpang yang naik, mengawasi gerak-gerik mereka, membaca perilaku mereka, menebak status sosial mereka, ikut tertawa ketika mereka tertawa, dan ikut teriris ketika mereka menangis, tentu saja sambil mengemudi. Semua aku lakukan lewat kaca spion itu. Kaca spion itu ibarat jendela buatku, yang menghamparkanku sebuah realita kisah kehidupan dari setiap penumpang yang ada. Kaca spion itu seperti bioskop yang memutar film-film tentang kehidupan, tapi bedanya ini nyata. Buatku kaca spion itu sudah seperti sebuah jendela kehidupan.
*********
Pagi ini seperti tidak seperti pagi-pagi sebelumnya. Aku berangkat dari rumah lebih cepat setengah jam dari biasanya, menuju stasiun. Sudah seminggu ini aku tenggelam ke dalam kisah salah seorang penumpang tetapku. Berharap hari ini bisa melanjutkan kisahnya dari jendela kehidupan yang terpasang di mobil bis yang aku kemudikan. Sebenarnya kaca spion itu setiap detiknya menawarkan aku banyak sekali kisah-kisah menarik dari setiap penumpang yang ada. Aku tinggal memilih, kisah yang mana yang menurutku menarik untuk kuselami lebih dalam. Dan pilihanku jatuh pada kisah salah satu penumpang tetapku itu.
Penumpang itu setiap harinya menumpang bisku. Naik di halte pertama dari 5 halte yang harus aku lalui setiap harinya. Dia seorang pemuda, bermata sipit, berambut ikal panjang sebahu, biasanya dia mengikat rambutnya bergaya samurai jepang, berperawakan cukup tinggi, kulit sawo matang, porsi tubuhnya ideal, tidak kurus tidak gemuk. Wajah pemuda itu adalah tipe wajah yang selalu bisa membuat orang langsung percaya bahwa si empunya wajah adalah orang yang ramah pada pandangan pertama. Dan dia memang ramah, karena selalu tersenyum kepadaku setiap kali dia menaiki bisku, tentu saja dia tersenyum kepadaku lewat kaca spion.
Dia seorang mahasiswa sebuah universitas negeri yang berada dijalur bisku. Dan dia selalu turun tepat di depan Universitas itu setiap paginya. Sampai sekarang aku belum tahu kenapa pemuda itu selalu menunggu bisku untuk menumpang. Padahal masih banyak bis lain yang lewat di jalur itu. Mungkin saja karena warna bisku sama dengan warna almamater yang seringkali dia kenakan. Atau mungkin saja karena faktor aku, akulah supir yang mengantarnya waktu hari pertama masuk Universitas. Waktu itu dia mengenakan semacam kostum badut, dia terlihat malu memakainya. Dan akulah satu-satunya orang yang tidak menertawainya waktu itu. Sebenarnya lebih karena aku fokus mengemudikan bis karena jalanan banyak yg berlubang. Tapi dia kelihatannya menangkap hal lain dariku. Hari itulah pertama kali dia tersenyum kepadaku lewat kaca spion. Dan sejak hari itu, aku tidak pernah mendapati dia selingkuh dengan bis lain, entah kenapa.
Sejak tragedi badut itu, tepatnya 4 tahun yang lalu, tidak ada yang menarik dari pemuda itu. Namun, sudah seminggu ini pemuda itu kembali menarik perhatianku. Ada sesuatu yang berbeda darinya. Dia yang dulu urakan sekarang selalu tampil rapi. Dia yang dulunya naik ke bis pada jam-jam yang berbeda sekarang selalu tepat pada jam 7.30 pagi setaip harinya, padahal setahuku mahasiswa semester 8 sudah tidak memiliki jadwal kuliah yang padat. Dia yang dulunya tidak selektif terhadap kursi penumpang sekarang lebih memilih untuk duduk di kursi belakang. Sudah seminggu ini aku memperhatikan keanehan-keanehan dari pemuda itu. Dan hari ini aku menemukan jawabannya. Aku rasa pemuda itu sedang jatuh cinta. Bukan jatuh cinta biasa. Melainkan jatuh cinta kepada seorang wanita yang baru seminggu ini menjadi penumpang tetap di bisku.
*********
TO BE CONTINUED to Retro Viseur -bagian kedua-..
Retro Viseur (Kaca Spion) -bagian pertama-
Posted by Qmal Group
|
|
Demo Blog NJW V2 Updated at: 08:23

0 comments:
Post a Comment