oleh Anhar Dana 'Dajju' Putra pada 8 Januari 2011 pukul 20:27 ·
Cerita ini adalah lanjutan cerita sebelumnya yang berjudul ""Retro Viseur (kaca Spion)
Please Enjoy it!
RETRO VISEUR (KACA SPION) Chapter 2
-part I-
Sudah setahun setelah tragedi yang merenggut nyawa sepasang pemuda yang baru saja menemukan kebahagiaannya itu berlalu, aku masih belum bisa memaafkan diriku karena telah menjadi penyebabnya. walaupun saya tau itu semua terjadi karena kecelekaan semata, tapi kejadian itu seringkali menghantui kepala saya sampai sekarang. perasaan bersalah itu pula lah yang memaksaku memilih untuk menanggalkan predikatku sebagai supir bis satu semester pasca tragedi itu. Dan akhirnya terpaksa merelakan istriku menjadi single fighter demi kelangsungan hidup keluarga kami selama kurang lebih enam bulan. walaupun itu bisa dibilang cukup singkat, tapi kondisi seperti itu tetap saja membuatku semakin tidak bisa memaafkan diriku, "saya seperti laki-laki yang bukan laki-laki kalau begini terus-terusan". batinku. saya kemudian kembali mencari pekerjaan.
Namun, betapapun saya mencoba untuk berusaha mencari pekerjaan yang layak, semakin saya patah arang karena tidak menemukan titik terang. Sebab, jika saya boleh jujur, saya sama sekali tidak memiliki keterampilan apa-apa kecuali mengemudi, selain itu saya cuma seorang laki-laki berpredikat lulusan SMP. Pernah satu kali saya mencoba bekerja sebagai tukang ojek, tapi entah kenapa setelah itu setiap saya pulang kerja dan makan di rumah, masakan istri saya seakan kehilangan cita rasanya yang tinggi, yang bahkan si koki rudi yang sering muncul di tv itu saja tidak bisa menandingi. Belakangan saya tau kalo dia ternyata cemburu sama seorang janda kembang yang menjadi langganan ojek saya waktu itu. Saya pun memutuskan untuk berhenti menarik ojek, sebab bagaimanapun juga tidak ada yang lebih saya cintai di dunia ini selain istriku, apalagi cuma seorang janda yang kebetulan kembang atau seorang kembang yang kebetulan janda.
Jadi, bisa dibilang satu-satunya pekerjaan yang layak dan pantas buat saya adalah Supir. “akan terdengar sedikit lebih keren kalau diganti menjadi Driver” kata anak saya saat hari pertama saya bekerja sebagai supir bis waktu itu. Juga karena saya merasa hanya dengan bekerja sebagai supir, kebiasaan saya yang ternyata sekarang sudah menjadi kebutuhan, untuk mengamati orang lain dan berharap menemukan sebuah cerita dibalik orang itu, bisa terpenuhi. Tentu saja, lagi-lagi lewat Kaca Spion. Akhirnya setelah melewati pergolakan mental yang kuat, antara perasaan bersalah yang seringkali mengusik dengan tuntutan kehidupan yang semakin hari semakin tinggi, saya pun menyerah dan kembali mencari lowongan pekerjaan sebagai supir. Yah, apa mau dikata, sepertinya saya memang ditakdirkan untuk menjadi seorang supir. Tapi, setidaknya bukan supir bis.
Beberapa waktu berselang, pucuk dicinta ulam pun tiba. Setitik sinar cerah datang menghampiri saya lewat seorang laki-laki paruh baya, berperawakan bongsor, hampir sama tingginya dengan saya, tidak cukup tinggi untuk menjadi seorang bintang sinetron, dan sepertinya kehilangan sebagian besar rambut di atas kepalanya, hanya bersisa beberapa helai uban yang menjuntai disisir ke samping. Beliau tinggal di sebuah rumah yang buat orang-orang seperti saya sudah seperti istana, tidak jauh dari rumah saya. Tak heran, karena beliau saat ini sedang menjabat sebagai wakil rakyat yang sudah setengah periode duduk di DPRD kota tempat kami bermukim, dan sepertinya beliau memang berasal dari garis keturunan orang kaya dan terpandang. Beliau pun akhirnya langsung menawari saya untuk menjadi supir pribadinya setelah mendapat gambaran tentang riwayat kerja saya sebagai supir bis dari salah seorang pembantu beliau yang kebetulan kenalan saya. Tanpa pikir panjang saya pun menerima tawaran itu.
Agak berbeda dari pekerjaan saya sebelumnya, sebagai supir bis. Walaupun rute yang saya lewati tiap harinya tetap sama, dari rumah beliau sampai ke kantor, kali ini saya hanya memiliki satu orang penumpang tetap yang setiap harinya akan selalu terlihat dalam layar kehidupan yang terpasang kokoh di atas dasbor mobil pribadi kepunyaan beliau. Naluri keingin-tahuan saya yang terbilang sangat tinggi ini pun mulai memaksa saya dengan cara melontarkan berbagai macam pertanyaan batin tentang cerita hidup apa yang kira-kira orang ini miliki, sejak hari pertama saya bekerja sebagai bawahan beliau. Saya akui saya memang penasaran. Karena yang saya tau, Tuhan menitipkan masing-masing sebuah cerita kepada setiap orang yang hidup di dunia, entah itu indah, bahagia, tragis, ironis, atau mungkin biasa-biasa saja. Dan sudah menjadi kepuasan tersendiri buat saya, jika saya bisa merekam setidaknya sebuah cerita hidup titipan Tuhan yang dimiliki seseorang. Meskipun itu, mungkin lagi-lagi hanya lewat kaca spion.
-to be continued to Retro Viseur (Kaca Spion) Chapter 2
Retro Viseur (Kaca Spion) Chapter 2 -part I-
Posted by Qmal Group
|
|
Demo Blog NJW V2 Updated at: 08:53

0 comments:
Post a Comment