Retro Viseur (Kaca Spion) Chapter 2 -part III-

Posted by

oleh Anhar Dana 'Dajju' Putra pada 12 Januari 2011 pukul 19:14

Cerita ini adalah lanjutan cerita sebelumnya yang berjudul ""Retro Viseur (kaca Spion) ". Bagi yang belum membaca cerita sebelumnya, sebaiknya dibaca dulu sebelum membaca Chapter 2 ini. Ikuti link berikut, http://www.facebook.com/note.php?note_id=390995611798
Part III ini adalah lanjutan Part sebelumnya yang berjudul ""Retro Viseur (kaca Spion) Chapter 2 -part II-". Bagi yang belum membaca Part sebelumnya, sebaiknya dibaca dulu sebelum membaca Part III ini. Ikuti link berikut, http://www.facebook.com/note.php?note_id=490167856798
Untuk -Part III- ini, ceritanya agak lebih panjang dari part-part sebelumnya, jadi disarankan untuk bersabar dan berkonsentrasi dalam membaca.
Please enjoy!



RETRO VISEUR (KACA SPION) Chapter 2

-part III-



Sembari aku menunggu beliau keluar dari rumah itu. Aku menghabiskan waktuku dengan menanyai diriku sendiri. Sekali lagi, rasa penasaran kembali datang menghampiriku. Pertanyaan-pertanyaan tentang siapa wanita itu, mengapa wanita itu terkejut dan menangis ketika melihat beliau, seolah menari-nari mengelilingi kepalaku. Jika saja ada yang melihatku, mungkin dia akan berfikir kalo aku ini model iklan obat sakit kepala yang sering muncul di tv. Saking penasarannya, sampai-sampai aku sempat berfikir kalo wanita itu adalah istri simpanan atau selingkuhan beliau. Tak ada yang mesti diherankan, wanita itu cantik, muda, dengan rambut hitam lurus panjang sepunggung, cukup tinggi untuk ukuran seorang wanita, dan satu lagi, tubuhnya termasuk kategori tubuh yng sering digambarkan dengan gitar spanyol oleh sebagian besar kaumku. Tapi prasangkaku itu segera ku tepis. Karena tidak mungkin orang setenang dan seberkharisma beliau melakukan hal-hal buruk semacam itu, meskipun tidak menutup kemungkinan ada beberapa rekan seprofesi beliau yang melakukan itu.



Setelah kurang lebih satu jam di dalam, beliau pun akhirnya keluar bersama wanita itu, sepertinya wanita itu ingin mengantar beliau sampai ke mobil. Belum juga mereka sampai ke mobil, tiba- tiba aku mendengar suara teriakan dari arah rumah itu.



“MAAAMAAA… MAAAMAAA…”



Aku kaget dan seketika mengarahkan pandanganku ke rumah itu untuk melihat siapa gerangan pemilik teriakan itu. Ternyata teriakan itu milik seorang anak gadis kecil, kira-kira berumur tiga tahun, dia mirip sekali dengan wanita itu. Gadis kecil itu kemudian berlari dengan mungilnya dari balik pintu menuju kearah mereka berdua. Teriakan itu di balas dengan senyuman oleh wanita itu. Dan saat gadis kecil itu sampai ketempat mereka berdua berdiri, beliau pun meraih tangan gadis kecil itu lalu kemudian menggendongnya sambil berjalan kearah mobil. Kulihat senyum cerah tepancar dari wajah beliau, ini adalah pertama kalinya aku melihat beliau tersenyum begitu tulus dan murni. Sama murninya dengan senyum gadis kecil itu, wanita itu pun sekali lagi ikut tersenyum. Aura kebahagiaan yang sangat terang dari ketiga orang itu seketika membangunkan seluruh bulu kudukku, dan mebuatku ikut tersenyum dengan mereka, meskipun di tempat yang berbeda. Aku menikmatinya.



Mereka pun sampai ke mobil. Aku kemudian bergegas membukakan pintu untuk beliau. Namun, sesaat sebelum beliau naik ke mobil, kulihat beliau mencium kening anak gadis kecil itu, membuat gadis kecil itu pun malu dan bersembunyi di belakang wanita itu karenanya. Beliau dan wanita itu pun tertawa secara spontan. Sekali lagi, aku merasa aneh sekaligus senang, sebab akhirnya aku bisa melihat beliau tertawa dengan begitu tulus untuk pertama kalinya. Mebuatku semakin sumringah.



Beliau pun naik, dan menyuruhku untuk mengantarkan beliau pulang kembali kerumahnya, lalu kemudian melambai kepada wanita dan gadis kecil itu seiring mobil bergerak perlahan menjauhi mereka berdua. Terlihat dari kaca spion wanita dan gadis kecil itu membalas dengan lambaian dan senyuman yang sama, mereka berdua terlihat sangat cantik dengan senyum itu di wajah mereka.



Dalam perjalanan pulang menuju kediaman beliau, sekali lagi kulihat beliau mengeluarkan selembar kertas yang tadi sudah beliau tulisi sesuatu. Aku sedari tadi sibuk mengatasi dan membendung hasratku untuk tidak menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tadi sempat menggerogoti kepalaku, sampai aku tidak sempat melihat apa yang beliau lakukan pada selembar kertas itu sebelum beliau memasukkannya kembali ke dalam sakunya.



Akhirnya kami pun tiba di kediaman beliau. Setelah memasukkan mobil ke dalam garasi, aku pun pamit kepada beliau. Aku sudah berada di depan pintu gerbang ketika beliau memanggilku kembali.



“Hmm.. Besok, aku mau, Jam 4.30 pagi kamu sudah ada sini. Aku mau kamu mengantarku ke suatu tempat. Dan ingat, jangan sampai telat.!” Tukas beliau.



Aku pun menyanggupinya. Aku heran, tak biasanya beliau menyuruhku datang sepagi itu. Aku sekali lagi penasaran, tapi kali ini rasa penasaranku kalah sama rasa lelah yang aku rasakan sehabis bekerja seharian. Tanpa pikir panjang lagi aku pun pulang ke rumah, dan berharap besok tidak terlambat. Sebab besok, rute dan tempat baru menungguku, meskipun mungkin dengan bonus pertanyaan-pertanyaan baru.



**********



Untung saja aku tidak terlambat. Walaupun ku lihat beliau sudah siap berangkat ketika aku datang. Tanpa berlama-lama aku pun langsung menyalakan mesin mobil dan memanasinya. Sambil membersihkan debu-debu yang menempel di dinding dan kaca mobil itu, sisa perjalanan kemarin, selain pertanyaan-pertanyaan yang senantiasa menggerogoti kepalaku, sama seperti serangga-serangga yang senantiasa mengerumuni lampu teras rumahku ketika malam datang. Segera setelah mesin mobil sudah cukup panas untuk dijalankan, beliau pun naik ke mobil yang kemudian disusul olehku. Beliau duduk di belakang dan aku di depan, beliau sebagai bos dan aku sebagai supirnya. Kami pun akhirnya berangkat.



Sama seperti kemarin, beliau tidak memberitahuku tempat yang ingin beliau kunjungi hari ini, lebih tepatnya dini hari ini. Melainkan hanya menunjukkanku arah, kapan aku harus belok ke kiri, kapan aku harus belok ke kanan, dan kapan aku harus berhenti. Membuatku lagi-lagi harus merasakan penasaran yang sangat mengganggu, tapi jujur aku mulai menikmatinya, karena sebentar lagi aku akan menemukan jawabannya.



Ada satu hal lagi yang membuat aku menikmati perjalananku hari ini, sepertinya beliau juga merasakan hal yang serupa, sebab daritadi kulihat beliau tidak pernah mengalihkan pandangannya dari suasana jalan raya di sekitar yang kami lalui. Tenang, cukup sepi, hanya satu dua mobil yang terlihat melintas, dan satu lagi, tanpa kemacetan yang sekarang sepertinya sudah menjadi syarat utama sebuah daerah diakui sebagai sebuah kota. Hari masih gelap, Pendar cahaya lampu-lampu pertokoan yang bersinergi dengan cahaya lampu jalan, membuat sudut-sudut kota yang biasanya menjemukan, gaduh dan bising, terlihat indah dan damai kali ini. Keindahan kala itu seolah ingin menyampaikan pesan padaku bahwa pasti selalu ada sesuatu hal yang baik yang terkandung di balik sesuatu hal yang buruk.



Selagi aku menikmati keindahan-keindahan yang terhampar di tiap-tiap sudut jalan yang kami lalui, tiba-tiba beliau menyuruhku berhenti di depan sebuah bangunan tinggi yang kelihatannya sudah sangat tua, belum selesai pengerjaannya dan sepertinya sudah sangat lama tercampakkan. Gedung itu memiliki sebelas lantai, aku bisa dengan sangat mudah mengetahuinya karena gedung tua itu tak berdinding. Disetiap lantainya ada sebuah tanggga yang menjadi penghubung antar lantainya.



Sesaat setelah mobil aku parkir, beliaupun segera turun. Kemudian memintaku untuk ikut turun dengannya. Aku pun segera turun dan mengikuti beliau yang sudah masuk lebih dulu. Aku sebenarnya heran, kenapa beliau memintaku untuk ikut turun dan mengikutinya, sedang kemarin tidak. Tapi kebingunganku itu seketika terjawab langsung oleh beliau sesaat setelah beliau menginjakkan kaki pada anak tangga pertama gedung itu.



“Sepertinya aku sudah sangat tua untuk menaiki ratusan anak tangga agar aku bisa sampai ke puncak gedung ini. Untuk itu aku memintamu mengikutiku untuk membopong ku kalau-kalau aku sudah tak sanggup lagi melangkahkan kakiku.” Tukas beliau tetap dengan keteduhannya.



Ternyata prediksi beliau terbukti. Baru saja kami menginjakkan kaki di lantai lima, nafas beliau sudah tersengal-sengal. Beliau memang sudah sangat tua, dan bagiku, membiarkan orang setua beliau menaiki ratusan anak tangga sendiri sama saja dengan mebunuhnya secara perlahan-perlahan. Dengan sigap aku pun membopongnya sampai kaki kami akhirnya menginjak lantai delapan. Nafas beliau semakin tidak beraturan, keringatnya bercucuran, wajahnya pucat pasi, dan sepertinya beliau sudah tak sanggup lagi melangkahkan kakinya. Aku juga sudah merasa lelah, sebab aku juga tidak pantas lagi di sebut pemuda, nafasku juga mulai tak beraturan. Tapi betapapun rasa lelah dan letih mnghimpit beliau, sepertinya keinginan beliau untuk sampai ke puncak lebih kuat daripada itu semua. Beliau tetap memaksa untuk melangkah meskipun aku dan beliau tau kalo beliau sudah tak sanggup lagi melangkah.



Tekad beliau yang begitu kuat akhirnya juga ikut membasuh lelah yang ku rasakan, tapi apa yang harus aku lakukan untuk membantu beliau sampai ke puncak, sedangkan tak mungkin aku membopongnya sebab beliau sudah tak sanggup lagi melangkah. Aku pun memutuskan untuk menggendongnya sampai ke lantai sebelas, sampai ke puncak. Meskipun aku tahu aku mungkin akan sangat kelelahan setelahnya, tapi sepertinya beliau sedang mengejar sesuatu, terlihat dari tekadnya yang sangat luar biasa sedari tadi aku mebopongnya. Dan apapun itu yang beliau kejar di puncak gedung ini, aku tidak akan pernah rela membuat beliau merasakan kekecewaan karena terlambat dan melewatkannya. Apapun caranya, apapun resikonya.



Akhirnya kami pun tiba di puncak gedung, aku pun langsung terkapar setelahnya, dan berharap semoga saja umurku tak sampai disini. Tiba-tiba, entah kenapa beliau kembali bisa melangkahkan kakinya dan berlari kecil menuju salah satu sisi di atas puncak gedung ini. Beliau seolah tidak menghiraukanku yang sedang terkapar lemas dan setengah mati. Konsentrasi beliau seperti dikendalikan oleh sesuatu yang beliau kejar sedari tadi, membuat beliau lupa akan rasa lelah, acuh akan rasa letih, dan tak peduli akan rasa sakit.



Sesampainya di sisi tepi puncak gedung ini, beliau pun berhenti berlari dan sekarang berdiri dengan tegap dan tenang, menarik nafas yang dalam, lalu kemudian bergumam.



“Sudah saatnya… Sebentar lagi dia datang…"



-to be continued to Retro Viseur (Kaca Spion) Chapter 2


Demo Blog NJW V2 Updated at: 08:56

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Flexible Home Layout

Tabs

Main menu section

Sub menu section