Retro Viseur (Kaca Spion) Chapter 2 -part IV-

Posted by

oleh Anhar Dana 'Dajju' Putra pada 16 Januari 2011 pukul 21:41

Cerita ini adalah lanjutan cerita sebelumnya yang berjudul ""Retro Viseur (kaca Spion) ". Bagi yang belum membaca cerita sebelumnya, sebaiknya dibaca dulu sebelum membaca Chapter 2 ini. Ikuti link berikut, http://www.facebook.com/note.php?note_id=390995611798
Part IV ini adalah lanjutan Part sebelumnya yang berjudul ""Retro Viseur (kaca Spion) Chapter 2 -part III-". Bagi yang belum membaca Part sebelumnya, sebaiknya dibaca dulu sebelum membaca Part IV ini. Ikuti link berikut, http://www.facebook.com/note.php?note_id=491238046798
Maaf, Part ini sedikit terlambat penerbitannya, dikarenakan penulisnya baru saja kena musibah kebanjiran. hehe
Please enjoy!



RETRO VISEUR (KACA SPION) Chapter 2

-part IV-



Aku terpana, terpaku, tak bisa bergerak, bukan karena rasa letih yang kian melumpuhkan organ-organku, bukan karena rasa lelah yang memasung kaki dan tanganku. Tapi karena sebuah keindahan tiada tara yang tiba-tiba saja datang menggapai kedua mataku. Sungguh sebuah karya nyata luar biasa, membahana, megah, agung dan mewah terhampar tepat segaris dengan pandanganku. Membayar segala pengorbanan, kelelahan, keperihan yang aku dan beliau alami sedari tadi. Dan beliau, masih tetap berdiri di tepi puncak gedung ini, merentangkan kedua tangannya, lalu kemudian tertawa. Kurasakan sirat kepuasan di balik tawanya, pesan kebahagiaan, seakan semua kesulitan yang tadi telah beliau alami tak pernah terjadi. Beliau juga menyaksikan apa yang aku saksikan, tapi bedanya, beliau sepertinya sudah terbiasa dan tau cara menikmatinya. Aku sekali lagi terpana, mulutku seketika menganga menyaksikannya.



Guratan sinar-sinar berwarna emas dari ufuk timur yang terpancar, seketika membungkus segala hamparan awan, langit, gedung-gedung, rumah-rumah, menara, jalan-jalan, dan semua yang dilaluinya, termasuk tubuh beliau. Membuat beliau seolah menyatu dengan keindahannya. Beliau masih menyisakan tawa, seolah menyapa cahayanya, memeluk kehangatannya, mengecap silaunya, dan memuja pesonanya. Beliau seperti baru saja merengkuh kebahagiaan yang sudah lama tak beliau rengkuh. Membuat aku merasa menjadi orang paling beruntung di dunia karena baru saja menyaksikan dua hal yang selalu menjadi impian semua orang, keindahan dan kebahagiaan. Sekaligus merasa menjadi orang paling bodoh di dunia karena selama ini setiap pagi telah melewatkan sebuah keagungan alam yang ternyata sungguh luar biasa keindahannya. Ini adalah pertama kalinya aku menyaksikan matahari terbit secara langsung. Aku tak heran jika beliau rela mengorbankan nyawanya hanya untuk mengejarnya, untuk menyaksikannya.



Perlahan-lahan secara tak sadar aku pun berdiri dan berjalan mendekati beliau ke tepi, saking aku menikmatinya, aku juga ingin menyatu dengan keindahannya, tak tahan aku dengan rayuannya untuk pergi mendekatinya. Aku sekarang sudah berdiri sejajar dengan beliau. Beliau pun menoleh ke arahku, lalu berkata sesuatu.



“Aku rela menukar apa saja yang aku punya hanya untuk ini”. Katanya



Aku mengangguk, karena aku mungkin juga akan melakukan hal yang sama.



“Mendiang ayahku dulu pernah memberitahuku sesuatu ketika aku masih kecil, katanya aku lahir tepat disaat matahari terbit. Mungkin itu yang membuatku begitu mencintai fenomena ini, tentu saja selain keindahannya. Tapi lucunya, betapapun aku mengatakan aku mencintainya, selama hidup aku baru dua kali menyaksikannya. Dan kedua-duanya kulakukan di puncak gedung ini. Di pagi ini, dan di pagi ketika aku meminta satu-satunya perempuan yang aku cintai seumur hidupku, untuk menjadi istriku, 28 tahun yang lalu. Dan perempuan itu jauh lebih indah dari apa yang kau lihat sekarang.” Lanjut beliau sambil tertawa kecil kemudian membasuh air mata yang entah kenapa tiba-tiba mencuat dari ujung matanya.



Aku terkejut. Kaget. Ini adalah kali pertama beliau sebegitu lepasnya bercerita tentang hidupnya, sejak hari pertama aku bekerja sebagai supir pribadi beliau. Aku bertanya-tanya dalam batinku, “ada apa? apa karena beliau terlalu bahagia? Atau karena pertolonganku tadi sehingga beliau mulai percaya padaku? Lalu, dimana istri beliau? apa mungkin wanita itu? Dan gadis kecil itu adalah anak beliau? tidak mungkin! Usia mereka terpaut sangat jauh. Lalu siapa? Dimana? Kenapa istri beliau tidak tinggal dengannya? Aaahhhhh!!”. Pertanyaan-pertanyaan batin itu membuatku terdiam selama beberapa menit.



Tanpa kusadari pertunjukan pun selesai, matahari sudah meninggi. Beliau pun memberikan kode untuk membopongnya turun. Segera kuraih tangan beliau dan kulingkarkan di pundakku, kemudian mulai membopongnya perlahan-lahan turun melalui tangga yang tadi hampir membunuh kami berdua, sampai akhirnya kami tiba dilantai dasar dan mengucapkan selamat tinggal pada gedung tua yang sudah lama tercampakkan tapi menyimpan sebuah keindahan tiada tara di puncaknya itu.



Mesin mobil kunyalakan, dan kami pun mulai melaju. Di perjalanan kulihat dari kaca spion beliau kembali meraih selembar kertas dari sakunya itu lalu kemudian seperti menulisinya lagi sesuatu. Apa sebenarnya yang beliau tulis di atas kertas itu. Kembali lagi, aku tak mungkin bisa melihatnya dari sini, walaupun lewat kaca spion. Aku hanya bisa terus memendam rasa penasaran itu.



Aku sedang mengarahkan laju mobil menuju ke arah kediaman beliau, sampai akhirnya beliau harus mengingatkanku.



“Hey, belum waktunya pulang, aku ingin kamu mengantarkan aku menemui istriku!!”. Tukas beliau.



Dadaku tiba-tiba berguncang, jantungku berdegup kencang. Sepertinya satu dari sekian banyak pertanyaanku sebentar lagi akan terjawab. Aku pun tersenyum puas. Ternyata istri beliau benar berada di suatu tempat, dan sebentar lagi kami akan mengunjunginya. Aku tak sabar ingin menyaksikan keindahan perempuan itu, yang kata beliau jauh lebih indah dari keindahan matahari terbit yang baru saja membuatku serasa menjadi orang paling beruntung dan paling bodoh di dunia secara bersamaan. Pasti istri beliau adalah perempuan yang sangat cantik.



Aku pun segera berbalik arah. Dan mulai mengikuti instruksi beliau kapan harus belok kiri, belok kanan dan kapan harus berhenti, seperti biasanya, tapi bedanya sekarang aku sudah tau kemana tujuan kami. Setidaknya menghapus sedikit dari setumpuk rasa penasaran yang senantiasa menghantuiku. Aku pun memutuskan untuk berkonsenstrasi saja dengan kemudiku. Sebab jalan raya juga sudah mulai padat, sudah mulai banyak kendaraan yang berlalu lalang. Potensi macet sudah kelihatan sepertinya.



Sudah cukup jauh kami berjalan, tapi belum ada tanda-tanda dari beliau untuk berhenti. Sudah kurang lebih satu jam sepertinya. Dan selama itu, beliau hanya duduk dan diam, sesekali mengeluarkan sebuah foto dari sakunya dan memandanginya sekali lagi dengan tatapan nanar, foto yang sampai sekarang masih membuatku penasaran dengan isinya. Sampai akhirnya beliau menyuruhku berhenti beberapa menit setelah foto itu masuk kembali ke dalam sakunya. Kami pun tiba di tempat tujuan beliau berikutnya.



Tapi apa yang terjadi, dadaku yang tadinya berguncang sekarang berguncang lebih hebat, jantungku yang tadinya berdegup kencang sekarang berdegup sangat kencang, ditambah sebuah keterkejutan yang sanggup membuatku lemas seketika, karena ternyata kami berhenti tepat di depan pintu gerbang sebuah pemakaman umum elit di kotaku. Aku pun membatin, “apa benar beliau ingin kesini, bukankah beliau bilang ingin menemui istrinya, ada apa ini sebenarnya?!”.

Setelah mobil kuparkir ditempat yang aman, beliau pun segera turun. Namun, sebelum turun beliau sempat berkata.



“Kamu tunggu aku di mobil saja, dan sepertinya kamu harus sedikit bersabar karena mungkin saya agak lama, sudah lama saya tidak menemui dia lagi soalnya”.



Apa mau dikata, perintah adalah mutlak, aku harus tetap tinggal di dalam mobil, meskipun aku sangat penasaran kenapa beliau ingin menemui istri beliau di tempat seperti ini. Saya cuma bisa berharap beliau tidak masuk terlalu jauh sehingga jarak pandangku masih bisa menjangkau beliau dari sini.



Selagi beliau beranjak masuk selangkah demi selangkah ke dalam lokasi pemakaman elit ini, beberapa spekulasi bermunculan di sekitar kepalaku. Tentang segala kemungkinan mengenai istri beliau itu. Pertama, beliau sudah mengatur janji sebelumnya dengan istri beliau untuk bertemu di lokasi ini karena mungkin lokasi ini punya kenangan tersendiri buat mereka. Kedua, istri beliau bekerja sebagai kepala kebersihan lokasi pemakaman umum elit ini, sehingga setiap hari harus stand by di lokasi ini. Dan yang terakhir, kemungkinan yang paling buruk, istri beliau adalah salah satu dari beberapa orang yang di semayamkan di lokasi ini, dengan kata lain istri beliau sudah meninggal dan di makamkan di sini. Aku berharap semoga saja bukan kemungkinan yang ini.



-to be continued to Retro Viseur (Kaca Spion) Chapter 2


Demo Blog NJW V2 Updated at: 08:57

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Flexible Home Layout

Tabs

Main menu section

Sub menu section